Arisan

0
21

“Arisan tanggal 27 september, konfirm ya di rumah Bu Ine,“ demikian seru Bu Raras dihadapan ibu-ibu seraya beberapa mata tersenyum padaku. Sontak batinku melonjak, “wah tanggal 27 september, itu tanggal tua, kalau mereka semua datang ke rumahku, hmmm… rasanya tambah semrawut dan membuat pertemuan menjadi tidak nyaman.”

“Kocokan kali ini jatuh ke bu Ine, eh..tapi kan bu Ine sudah terima yaa 3 bulan lalu, ya sudah sekarang kita kocok lagi… bismillahirrahmaanirrohiim.. ya.. Bu Ratih..,” demikian bu Raras sebagai ketua arisan menyebutkan nama bu Ratih dengan semangat, dan karena kebetulan bu Ratih tidak masuk, maka uang nya dititipkan dulu kepada bu Ine yang dianggap suka berjumpa dengan bu Ratih. Memang anak mereka berada dalam satu sekolah, bu Ine pun ikut arisan ini dikarenakan diajak bu Ratih yang akhir-akhir ini dekat hubungannya dengan bu Ine. Dengan tidak enggan Bu Ine menerima titipan uang arisan untuk Bu Ratih.

Tak terasa, beberapa hari lagi menjelang tanggal 27 september, kepala bu Ine terasa mau pecah karena memikirkan arisan dirumahnya yang tentu saja mendatangkan berbagai masalah baru yaitu penyediaan makanan yang banyak dan lengkap. Rasanya malu bila makanan yang disajikan biasa-biasa saja, sementara dari setiap rumah yang dipakai untuk arisan, hampir semua ibu-ibu menyediakan hidangan yang istimewa.

Pujian-pujian serta tanya sana sini terhadap resep masakan, membuat sang tuan rumah hidungnya menjadi bertambah besar. Tanpa terasa bobot ibu-ibu peserta arisan menjadi bertambah besar dan hal ini terus berlangsung sampai akhirnya giliran Bu Ine tiba.

Kemampuan memasak bu Ine memang hebat, tetapi kemampuan dalam mencari tambahan penghasilan yang tidak begitu hebat. Hal ini menyebabkan uang belanja suaminya pun yang sebetulnya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan sekolah anak-anak akhirnya digunakan untuk mengikuti arisan.

Bu Ine sebetulnya merasa arisan yang diikutinya ini cukup berat bagi kantongnya. Bu Ine hanya ingin kelihatan bahwa dia mampu di depan bu Ratih, gengsi dong bila dia katakan tidak mau ikut arisan dengan alasan keuangan mampet walaupun uang sekolah anaknya atau sesekali uang listrik terpakai untuk pembiayaan arisan.

Sungguh, bila kegunaan arisan seperti itu maka akan memberatkan hidup bu Ine yang memang sudah cukup berat. Selain karena kerepotan ketika rumahnya ketempatan arisan, belum lagi harus diadakannya masakan yang macam-macam yang membuatnya menjadi pusing 9 keliling. Selain itu tanpa disadarinya uang bu Ratih pun tidak sengaja terpakai untuk membayar tagihan telepon serta untuk membayar iuran arisan dan lain-lain. Hal ini membuat bu Ine menjadi semakin semrawut menjelang tanggal 27 september.

Apa yang harus terjadi pada bu Ine sebetulnya seringkali dialami oleh banyak wanita disekitar kita, bahkan mungkin kita sendiri. Saya berpikir, bila kita mengalami apa yang dialami bu Ine, maka kita harus berani mengatakan TIDAK, bila apa yang ditawarkan lingkungan kita tidak sepadan dengan keadaan dan kondisi kita. Namun kenyataannya sangat disayangkan masyarakat kita lebih mengutamakan gengsi daripada kemampuannya walaupun sebenarnya dalam keadaan tidak punya.

Memang dibutuhkan keberanian luar biasa untuk mengatakan terus terang kondisi seperti bu Ine kepada kawan-kawan arisannya. Daripada susah, lebih baik terbuka pada kawan-kawan yang ada, atau tidak usah ikut arisan sama sekali agar tidak membuat hidup yang susah menjadi bertambah susah. Wallahu’alam.

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al A’raaf: 31)

Quiz : Apakah arisan penting bagi wanita?