Fakta Sejarah: Penguasaan Pasar adalah Penguasaan Kemerdekaan dan Sebaliknya!

0
397

Adalah mujahid besar abad lalu Imam As-Syahid Hasan Al Banna yang merumuskan makna kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan itu, yaitu kemerdekaan politik, ekonomi dan pemikiran. Ketiganya saling terkait karena bila kita terjajah atau tidak merdeka di salah satu sisi, kita mudah untuk dijajah di kedua sisi lainnya. Sejarah panjang negeri ini telah membuktikannya, penjajahan —demi penjajahan telah mendominasi negeri ini selama berabad-abad, bahkan ketika kita ‘mengira’ sudah merdeka— ternyata ini hanya perubahan bentuk penjajahan yang satu ke bentuk penjajahan lainnya—setidaknya ini bila kita menggunakan kriteria penjajahan atau kemerdekaan dari Hasan Al-Banna di atas.

Lantas bagaimana kita bisa merdeka yang sesungguhnya? ya minimal kita harus bisa merdeka lengkap dengan tiga sisinya yaitu merdeka dari penjajahan politik, merdeka dari penjajahan ekonomi dan merdeka pula dari penjajahan pemikiran. Bagaimana ketiga penjajahan ini saling terkait? mari kita tengok kebelakang apa yang terjadi di negeri ini selama berabad-abad dan masih berlangsung terus hingga kini.

Cukup banyak bukti bahwa Islam masuk ke negeri ini kemungkinan besarnya dibawa oleh para pedagang langsung dari Arab pada abad pertama Hijriyah atau abad ke tujuh Masehi—ini misalnya diungkap oleh Prof. Dr. Buya Hamka pada Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia (Medan , 1963). Jadi bukan oleh pedagang dari Gujarat pada abad ke 13 Masehi atau abad 6 Hijriyah seperti yang diteorikan dalam pelajaran-pelajaran sejarah di sekolah-sekolah hingga kini.

Apa implikasinya perbedaan abad, dan pembawa ini? Ini terkait dengan kwalitas orang-orang yang membawa Islam ke negeri ini. Generasi terbaik umat ini adalah generasi para sahabat kemudian berurutan ke generasi sesudahnya, jadi kwalitas generasi abad pertama Hijriyah tentu sangat berbeda dengan generasi tujuh abad kemudian—apalagi dari negeri yang telah banyak mengalami penyimpangan dalam ajaran Islamnya.

Dengan apa para juru dakwah nan perkasa tersebut menjangkau negeri yang begitu jauh dari negeri asalnya? Dengan keahlian berdagang! maka disinilah mulai make sense-nya peran kepandaian berdagang ini dalam menopang kepentingan dakwah dan perjuangan dalam jangka panjang.

Melalui kepandaian berdagang para juru dakwah dari negeri yang sangat jauh tersebut, mereka mudah untuk di terima dan memperoleh dukungan dari penduduk-penduduk negeri asing yang dikunjunginya. Melalui pasar-pasar yang terbentuk oleh para pedagang ini pula, ajaran Islam kemudian menyebar luas di Nusantara. Ini ditandai dengan bukti sejarah kemudian bahwa sudah mulai ada kekuatan politik Islam di Aceh pada abad ke 9 Masehi atau abad ke 3 Hijriyah—dari sinilah kemungkinan munculnya istilah Serambi Mekah itu! Ini juga menjadi bukti bahwa tidak mungkin Islam baru masuk dibawa oleh pedagang dari Gujarat pada abad 13 Masehi, karena bahkan kekuatan politik Islam sudah hadir di Aceh abad 9 Masehi.

Tujuh abad kemudian ketika imperialisme barat yang dipimpin oleh imperialis Portugis merebut Malaka (1511) —saat itu Malaka sebenarnya sudah menjadi pusat perdagangan Islam dibawah kekuasaan pemimpin Islam Sultan Mahmoed. Apa artinya ini? bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah sebegitu luas dan berhasil membangun kekuatan politik, ekonomi dan pemikiran selama berabad-abad di Nusantara. Tetapi bagaimana atau dari mana para imperialis kemudian bisa melakukan aksi penjajahannya? ya dari sisi ekonomilah pintu masuk mereka!, motif ekonomi ini yang membuat para imperialis ini rela melakukan perjalanan yang sangat jauh dalam waktu belasan tahun untuk akhirnya menemukan sumber rempah-rempah yang mereka cari—yaitu Nusantara, maka dengan kekuatan ekonomi mereka menguasainya.

Sejak kedatangan imperilais portugis tersebut ke Nusantara, sejak saat itu pula sistem ekonomi Islam dan pasarnya yang sudah berkembang beradab-abad dirusak—bahkan imperialis tidak hanya menguasai pasar Malaka tetapi juga jalur-jalur pelayaran niaganya. Hal yang sama yang kemudian dilakukan oleh Belanda ketika menduduki Jayakarta lebih dari seabad kemudian (1619).

Lebih jauh lagi imperialis yang kedua ini bukan hanya menguasai pasar dan jalur pelayaran perdagangan saja, tetapi kemudian juga menguasai pula resources-nya. Ketika pemerintah kolonial Belanda mengalami kesulitan keuangan yang berat misalnya, mereka memberlakukan pajak natura kepada para petani yang mayoritasnya sudah muslim di pulau Jawa. Pajak natura inilah yang kemudian membuat para petani diwajibkan menanam tanaman-tanaman yang hasilnya untuk pasar Eropa yaitu berupa kopi, teh, nila, tebu dan tembakau. Dan tahukah Anda berapa lama sistem tanam paksa atau cultuurstelsel ini berlangsung? hampir 90 tahun yaitu antara tahun 1830-1919!

Dari dua penggal episode sejarah penjajahan tersebut kita jadi tahu sekarang kesamaan keduanya, yaitu keduanya masuk melalui penguasaan pasar, lalu lintas perdagangan dan juga akses terhadap sumber daya alamnya. Pola-pola semacam ini nampaknya tetap menjadi ‘senjata’ yang efektif bagi para ‘penjajah’ untuk mengendalikan ‘negeri jajahannya’ hingga jaman teknologi ini.

Di sisi lain adalah bila ‘senjata’ ini kita yang menguasai, maka sesungguhnya hal yang sebaliknya juga bisa terjadi—yaitu kita bisa merintis kemerdekaan mulai dari penguasaan pasar, jalur perdagangan (saat ini berarti jaringan atau network) dan sumber daya alam.

Dalam sejarah negeri ini tercatat bahwa yang merintis perjuangan melawan penjajah adalah para ‘penguasa pasar’ yang sudah selama beratus tahun diluluhlantakkan oleh para penjajah. Adalah Hadji Samanhudi yang sesungguhnya memelopori kesadaran nasional melalui kesadaran berniaga—yang kemudian kita kenal dengan Syarikat Dagang Islam (SDI, 1905). Berawal dari SDI inilah kemudian kebangkitan demi kebangkitan bermunculan, yang akhirnya membuat Indonesia secara de jure Merdeka 40 tahun kemudian 1945.

Tetapi pertanyaannya adalah apakah setelah tahun 1945 tersebut Indonesia bener-bener merdeka? nampaknya belum bila kita menggunakan standar kemerdekaannya Hasan Al-Banna tersebut di atas. Tugas kita di jaman ini untuk terus menyempurnakan kemerdekaan ini sehingga baik de jure maupun de facto kita (atau anak cucu kita?) harus bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Hingga saat ini kita belum merdeka dari sisi ekonomi karena pasar-pasar kita baik dalam arti fisik maupun dalam arti system bukan kita sendiri yang menguasainya. Kita masih memakai baju dari kapas yang 99.5% bahan-nya impor, sekian banyak menu dimeja makan kita berbahan baku terigu yang 100%-nya impor. Kita harus mengimpor daging, susu, kedelai untuk tahu tempe dan bahkan juga bahan baku untuk pakan ternak-ternak kita. Penjajahan ekonomi ini menjadi nampak begitu nyata ketika 13 tahun lalu , presiden dari negeri ini harus ‘menyerah’ menanda tangani 50 butir kesepakatan kepada IMF. Bahkan nuansa penjajahan yang pedih ini masih dapat kita rasakan hanya dengan melihat foto di bawah ini. (lihat gambar)

Pak Harto dan IMF

Kita juga belum merdeka dalam pikiran karena kita masih harus terpaksa ‘menyesuaikan’ apa yang baik menurut imperialis seolah baik untuk kita— sikap dalam memandang riba contohnya. Meskipun ulama-ulama telah bulat menyatakan bunga bank adalah riba dan riba adalah haram—tetapi karena komando imperialis barat yang terwakili oleh sosok penjajah yang sama diatas menyatakan sebaliknya —bahwa bunga bank adalah suatu keniscayaan dalam system keuangan dan ekonomi modern ini— maka fatwa haram-pun menjadi seolah ‘tidak berbunyi’ dan tidak banyak yang mendengarkannya.

Lantas apa yang bisa kita lakukan sesungguhnya? Dari mana kita bisa mulai untuk merintis kemerdekaan yang sesungguhnya? Salah satunya adalah mengulangi persis episod-episod sejarah tersebut di atas. Kita bisa mulai dari uswatun hasanah kita karena sebelum menjadi Nabi, Muhammad bin Abdullah muda-pun lebih dahulu menguasai pasar—tidak kurang dari 13 pasar di Jazirah Arab pernah dikunjunginya. Di pasar-pasar inilah Muhammad sudah berinteraksi dengan pedagang-pedagang dari negeri yang jauh seperti India dan China.

Para pendakwah Arab sampai negeri ini juga melalui perdagangan (pasar), kita kehilangan kemerdekaan oleh para imperialis juga mereka masuk melalui penguasaan pasar, dan kemudian para pejuang negeri ini membangkitkan kesadaran nasional untuk merintis kemerdekaan juga sekali lagi melalui pasar (Syarikat Dagang Islam).

Maka dari sinilah salah satunya kita harus bisa mulai, pasar yang telah dirusak oleh imperialis sejak mereka memisahkan kaum muslimin yang mayoritas di Nusantara dari pasarnya, kemudian menyerahkan pasar ini ke kelompok minoritas yang mereka sebut Vreemde Oosterlingen —non pribumi, Cina, India dan Arab— harus bisa kita rebut kembali!

Namun perlu diingat bahwa upaya merebut pasar ini—tidak harus menimbulkan sikap permusuhan terhadap kaum yang lain. Imperialis dari waktu ke waktu terus berusaha menimbulkan permusuhan antar ras, suku dan antar agama, kita tidak perlu terpancing. Kaum minoritas tersebut hanyalah sebagian kecil pihak yang diuntungkan oleh system penjajahan, tetapi bukan mereka penyebabnya.

Kita punya contoh yang Agung yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang merumuskan Konstitusi Madinah (622 M)—konstitusi tertulis pertama yang bahkan dunia barat baru bisa menirunya 6 abad kemudian (abad ke 13 Masehi). Melalui konstitusi ini, umat diluar Islam seperti Nasrani, Yahudi dan bahkan Majusi bisa hidup didalamnya dengan damai.

Melaui contoh yang agung ini pula, para pejuang Muslim negeri ini kemudian bisa merangkul kelompok minoritas untuk berjuang bersama. Ketika para pejuang pedagang Islam bergabung dalam Sjarikat Dagang Islam (SDI) , mereka juga bekerja sama dengan para pedagang Cina dengan kerjasama yang disebut Kong Sing ( mungkin dari sinilah munculnya istilah kongsi yang kita kenal sampai kini ! ).

Penjajah politik, ekonomi dan pemikiran yang kini mendominasi penduduk-penduduk di seluruh dunia —termasuk kita di negeri ini— bukanlah pemerintahan suatu negeri, bukan pula suatu pemerintah negeri lainnya —tetapi adalah suatu system kepentingan yang saling terkait satu sama lainnya— yang paling dekat gambarannya mungkin adalah corporatocracy—gabungan kepentingan antara pemerintahan negeri tertentu, institusi-institusi global tertentu dan sejumlah perusahaan-perusahaan global tertentu.

Tetapi di belakang itu semua, tentunya ada tangan-tangan ‘ghaib’ yang memainkannya—siapa mereka ini? Inilah yang harus kita cermati dari waktu ke waktu secara bijak. Banyak indikator sejarah yang mensyiratkan keberadaannya, tetapi karena kepandaian mereka—membuat pengungkapannya secara gamblang tidak mudah. Bagi yang penasaran, saya menganjurkan Anda untuk membaca buku best seller nasional API SEJARAH karya Sejarawan Muslim Ahmad Mansur Suryanegara (Salamadani, 2009), fakta-fakta sejarah yang saya ungkapkan tersebut diatas hanyalah sebagian kecil saja dari informasi pelurusan sejarah yang diungkapkan oleh penulis yang satu ini. Wa Allahu A’lam.