Hadits Memperhatikan Kemaslahatan Ahli Waris

0
22

وعن أبي إسحاقَ سَعدِ بنِ أبي وَقَّاصٍ مالِكِ بنِ أُهَيْب بنِ عبدِ منافِ بنِ زُهرَةَ بنِ كلابِ بنِ مُرَّةَ بنِ كعبِ بنِ لُؤيٍّ القُرشِيِّ الزُّهريِّ  ، أَحَدِ العَشَرَةِ المشهودِ لهم بالجنةِ ، قَالَ : جاءنِي رسولُ اللهِ يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ اشْتَدَّ بي ، فقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إنِّي قَدْ بَلَغَ بي مِنَ الوَجَعِ مَا تَرَى ، وَأَنَا ذُو مالٍ وَلا يَرِثُني إلا ابْنَةٌ لي ، أفأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي ؟ قَالَ : (( لا )) ، قُلْتُ : فالشَّطْرُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ فقَالَ : (( لا )) ، قُلْتُ : فالثُّلُثُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟  قَالَ : (( الثُّلُثُ والثُّلُثُ كَثيرٌ -أَوْ كبيرٌ إنَّكَ إنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أغنِيَاءَ خيرٌ مِنْ أنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يتكفَّفُونَ النَّاسَ ، وَإنَّكَ لَنْ تُنفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغي بِهَا وَجهَ اللهِ إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ في فِيِّ امْرَأَتِكَ )) ، قَالَ : فَقُلتُ : يَا رسولَ اللهِ ، أُخلَّفُ بعدَ أصْحَابي ؟ قَالَ : (( إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعملَ عَمَلاً تَبتَغي بِهِ وَجْهَ اللهِ إلاَّ ازْدَدتَ بِهِ دَرَجةً  ورِفعَةً ، وَلَعلَّكَ أنْ تُخَلَّفَ حَتّى يَنتَفِعَ بِكَ أقْوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخرونَ . اللَّهُمَّ أَمْضِ لأصْحَابي هِجْرَتَهُمْ ولاَ تَرُدَّهُمْ عَلَى أعقَابهمْ ، لكنِ البَائِسُ سَعدُ بْنُ خَوْلَةَ )) يَرْثي لَهُ رَسُولُ اللهِ أنْ ماتَ بمَكَّة . مُتَّفَقٌ عليهِ .

Dari Abu Ishaq Sa’ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin ‘Abdi manaf bin Zahrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’aiy al Quraisyiyyi az Zuhri radhiyallahu ‘anhu, salah seorang di antara sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Ia berkata: Rasulullah pernah datang menjengukku pada tahun haji wada’, karena aku sakit keras, kemudian aku berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya sakitku ini sangat keras sebagaimana engkau saksikan. Sedang aku mempunyai harta yang cukup banyak, sementara tidak ada seorangpun yang menjadi ahli warisku kecuali seorang anak perempuanku. Apakah boleh aku sedekahkan dua per tiga hartaku?” Beliau menjawab, “Tidak”, kemudian kutanyakan, “Bagaimana kalau setengahnya?” Beliau menjawab “Tidak.” Lalu kutanyakan, “Bagaimana jika sepertiganya ya Rasulullah? Selanjutnya beliau bersabda, “Ya, sepertiga, dan sepertiga itu banyak atau besar. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan kesusahan (miskin) seraya meminta-minta kepada orang. Sesungguhnya engkau tidak sekali-kali menafkahkan hartamu dengan mengharapkan keridhaan Allah melainkan engkau akan diberikan pahala atasnya bahkan pada apa yang engkau suapkan ke mulut istrimu.”

Lebih lanjut ia berkata, kemudian kukatakan, “Ya Rasulullah, apakah aku akan ditinggalkan (di Mekah) setelah kepergian sahabat-sahabatku darinya?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya tidaklah engkau ditinggalkan, lalu kamu mengerjakan suatu amalan yang engkau niatkan karena mencari ridha Allah, melainkan dengannya engkau akan bertambah derajat dan ketinggian. Barangkali engkau akan dipanjangkan umur, sehinga orang-orang dapat mengambil manfaat darimu, disamping ada juga orang lain yang merasa dirugikan olehmu. Ya Allah, biarkanlah hijrah sahabat-sahabatku terus berlangsung, dan janganlah Enkau kembalikan mereka ke tempat semula. Tetapi yang kasihan Sa’ad bin Khaulah.” Rasulullah sangat menyayangkan ia meninggal di Mekah.(Mutafaquh ‘alaihi)

Faedah hadits:
  1. Disyariatkan kepada pemimpin untuk menjenguk bawahannya yang sakit terutama jika sakit keras.
  2. Diperbolehkan menyebutkan sakit dengan tujuan yang benar, seperti meminta obat atau doa dari seorang yang shalih tanpa disertai keluhuhan dan sikap tidak ridha, hal ini tidak bertentangan dengan sifat kesabaran.
  3. Diperbolehkan meletakkan tangan di atas dahi orang yang sakit dan mengusap wajahnya serta mengusap  bagian tubuh yang sakit dan mendoakan semoga diberi umur yang panjang.
  4. Pahala berinfak diperoleh dengan syarat niat yang benar, mengharapkan ridha Allah.
  5. Diperbolehkan mengumpulkan harta, dengan syarat diperoleh dengan cara yang halal. Hal ini tidak termasuk penimbunan harta, selagi pemiliknya menunaikan haknya, yaitu zakat.
  6. Wasiat harta yang diberikan kepada selain ahli waris tidak boleh melebihi sepertiga (kecuali dengan izin ahli waris).
  7. Infak yang diberikan kepada keluarga mendapatkan pahala jika diniatkan untuk mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
  8. Amal kebaikan dan ketaatan yang tidak bisa dilakukan, bisa diganti dengan yang lainnya dalam hal perolehan pahala dan balasan.
  9. Anjuran untuk menyambung silaturahmi keluarga dan berbuat baik kepada kerabat. Menyambung silaturahmi kepada keluarga yang lebih dekat lebih diutamakan dari pada keluarga jauh.
  10. Larangan memindahkan mayit dari negrinya ke negri lain. Jika hal ini disyariatkan, tentu Rasulullah akan memerintahkan untuk memindahkan jenazah Sa’id bin Khaulah.
  11. Mencegah dari sarana menuju keburukan, hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan janganlah engkau mengembalikan mereka ke tempat mereka ditinggalkan,” agar tidak ada seorang pun menjadikan sakit sebagai sarana untuk mencintai negeri dan kampung halaman yang telah ditinggalkannya (karena hijrah).
  12. Kewajiban memperhatikan kemaslahatan ahli waris dan memelihara keadilan di antara mereka.

***
muslimah.or.id
disarikan dari kitab Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali
oleh Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id