Letusan Anak Krakatau Ternyata Juga Menakutkan Warga Dunia

0
8

Eramuslim.com – Gunung Anak Krakatau dilaporkan erupsi pada Jumat (10/4/2020) malam sekitar pukul 21.58 WIB, seperti dilansir dari kompas.com.

Meski letak Gunung Anak Krakatau di Indonesia namun ternyata membuat takut warga di luar negeri, seperti yang ditulis media asing.

Media Inggris Daily Mail menuliskan, letusan Gunung (Anak) Krakatau mengeluarkan kepulan asap setinggi 15 kilometer (km) ke udara.

Daily Mail juga mengabarkan adanya suara dentuman keras, yang “terdengar hingga 150 kilometer jauhnya di ibu kota Jakarta sekitar pukul 11 malam waktu setempat”.

“Citra satelit mendeteksi ‘letusan magmatik besar’ dengan kepulan asap setinggi 15 km (47.000 kaki) ke langit.”

“Ini diyakini sebagai aktivitas terkuat sejak letusan pada Desember 2018.”

“Gunung berapi itu kehilangan lebih dari dua pertiga ketinggiannya setelah ledakan yang memicu tsunami mematikan yang menewaskan 400 orang,” tulis Daily Mail selanjutnya.

Media online yang diluncurkan pada 2003 itu kemudian mencantumkan kesaksian para warganet Indonesia, yang mengunggah foto letusan Gunung Anak Krakatau di Twitter.

Salah satu yang dicantumkan adalah dari akun @ayingmaung yang menulis, “Krakatau, We are fighting coronavirus. Please go to sleep (Krakatau, kami sedang melawan virus corona, tolong tidurlah lagi).”

Terkait suara dentuman keras yang hingga kini masih menjadi misteri, Daily Mail mencantumkan kesaksian dari seorang warganet perempuan yang tidak dicantumkan nama akunnya.

“I keep hearing noises here in Indonesia (Aku terus mendengar suara-suara di sini di Indonesia),” tulis warganet tersebut.

Media Rusia Sputnik News turut menyoroti letusan GAK semalam.

Beritanya juga menunjukkan ini letusan terbesar sejak Desember 2018 yang saat itu memicu tsunami. Data yang dicantumkan Sputnik sedikit berbeda dengan Daily Mail.

Di Sputnik disebutkan kepulan asap setinggi 14 km, yang mereka lansir dari pemberitaan Newshub.

“Erupsi dari gunung api ternama, yang terletak di antara Pulau Jawa dan Sumatra di provinsi Lampung, dilaporkan dimulai pada 10.35 malam waktu setempat,” tulis Sputnik berikutnya.

Kemudian dari kesaksian warganet, Sputnik mencantumkan tweet dari akun @yasellatuan yang menuliskan “Krakatau tidak berhenti erupsi selama 2 jam beruntun.”

Dokumentasi lain yang diunggah warganet juga dicantumkan oleh Sputnik, seperti video rekaman CCTV yang diunggah akun @nantibaliklagi.

Sebagai penutup berita, media yang didirikan di Moskwa pada 2014 ini menuliskan letusan terbesar Krakatau di era modern terjadi pada 1883.

“Ledakan besar itu mengeluarkan suara yang terdengar ratusan mil jauhnya, membentuk tsunami yang menjulang setinggi 42 meter di beberapa tempat, dan menciptakan awan abu setinggi 80 km (260.000 kaki) yang menghitamkan langit di sekeliling Bumi selama beberapa tahun,” tulisnya.

Dan ini membuat sejumlah warga yang berada dekat dengan area Gunung Anak Krakatau mengungsi.

Apa yang warga lakukan sangat wajar.

Sebab,Gunung Anak Krakatau dikenal sebagai salah satu gunung api aktif di Indonesia.

Apapun yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau, entah itu erupsi atau gerakan lain, akan langsung menarik minat seluruh dunia.

Sebab, semua orang pasti tahu bencana dahsyat yang terjadi seperti ketika Gunung Krakatau meletus pada 1883 silam.

Pasalnya, tak hanya Indonesia, New York hingga seluruh merasakan fenomena mencekam ketika Gunung Krakatau meletus.

Melansir dari history.com pada Sabtu (11/4/2020), pada tahun 1883, Gunung Krakatau mengalami erupsi dan tak lama dia meletus.

Akibatnya, kejadian ini menewaskan ribuan orang dan menjadi salah satu bencana geologis terburuk di zaman modern.

Kisahnya terjadi pada 20 Mei 1883.

Awalnya, ada suara gemuruh dan kawah dari gunung ini mulai aktif selama sekitar 200 tahun.
Selama 3 bulan berikutnya, ada ledakan kecil reguler dari Krakatau dari tiga ventilasi pada 11 Agustus, di mana abu menyembur dari gunung kecil ini.

Hingga kemudian, erupsi mulai kuat pada 26 Agustus, dan pada saat itulah bencana mengerikan mulai terjadi.

Pada siang hari gunung Krakatau mengirim awan abu sejauh 20 mil ke udara dan getaran yang memicu beberapa tsunami.

Ini hanya indikasi kecil dari getaran yang memicu beberapa tsunami, tentang bagaimana yang akan terjadi berikutnya.

Selama empat setengah jam mulai pukul 5.30 pagi pada tanggal 27 Agustus, ada empat letusan besar yang sangat kuat.

Yang paling akhir membuat suara paling keras dan kuat yang pernah direkam di planet ini.

Bahkan terdengar hingga ke Australia tengah dan Pulau Rodrigues yang terletak 3.000 mil jauhnya dari Krakatau.

Gelombang udara yang diciptakan oleh letusan Gunung Krakatau bahkan terdeteksi di titik-titik dari seluruh muka bumi.

Letusan ini memiliki efek yang menghancurkan pulau-pulau dekat Krakatau, hingga memicu tsunami luar biasa yang menyapu ratusan desa di pesisir Jawa dan Sumatra.

Air mendorong daratan beberapa mil di tempat-tempat tertentu, dengan balok-balok karang seberat 600 ton berakhir di pantai.

Setidaknya dilaporkan lebih dari 35.000 orang tewas, meskipun angka tersebut belum bisa dipastikan.

Ada juga yang menyebut korban jiwa hingga 120.000 orang.

Tsunami berjalan hampir di seluruh dunia, gelombang tinggi yang luar biasa terlihat ribuan mil jauhnya pada hari berikutnya.

Gunung api ini melemparkan begitu banyak batu, abu, dan batu apung ke atmosfer di daerah terdekat.

Bahkan matahari hampir tidak terlihat dalam beberapa hari.

Dalam beberapa minggu, matahari muncul dengan warna aneh di hadapan orang-orang dari seluruh dunia.

Para ahli menyebut ini dikarenakan debu halus berhamburan di atmosfer.

Selama 3 bulan berikutnya, puing-puing tinggi di langit menghasilkan matahari terbenam berwarna merah yang jelas.

Dalam satu kasus, pemadam kebakaran di Poughkeepsie, New York, dikirim ketika orang-orang menonton matahari terbenam.

Karena mereka yakin melihat api dari kejauhan.

Lebih lanjut, lukisan Edvard Munch tahun 1893 ‘The Scream’ diyakini melukiskan bagiamana dunia terjadi setelah erupsi Krakatau.

Selain itu, jumlah debu di atmosfer juga menyaring matahari dan panas yang cukup sehingga suhu global turun secara signifikan selama beberapa tahun.

Namun, setelah metelus gunung Krakatau, dia menyisakan Gunung Anak Krakatau di sebuah pulau kecil yang terus tumbuh rata-rata 5 inchi setiap minggu. (*end)