Malu Mendatangkan Kebaikan (Bagian 2)

0
9

Macam-Macam Malu

Malu itu ada dua jenis. Pertama, malu yang merupakan tabiat dan watak bawaan.

Malu semacam ini adalah akhlak paling mulia yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُلاَيَأْتِيْإلاَّبِخَيْرٍ

“Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Malu seperti ini menghalangi seseorang agar tidak mengerjakan perbuatan buruk dan tercela serta mendorongnya agar berakhlak mulia. Dalam konteks ini, malu termasuk bagian iman. Al-Jarrah bin ‘Abdullah al-Hakami berkata, “Aku tinggalkan dosa selama empat puluh tahun karena malu, kemudian aku mendapatkan sifat wara’ (takwa).”[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (I/501).].

Kedua, malu yang timbul karena adanya usaha, yaitu malu yang didapatkan karena ma’rifatullah (mengenal Allah Azza wa Jalla ) dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari iman. Siapa saja yang tidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabi’at maupun yang didapat dengan usaha, maka tidak ada sama sekali yang menahannya dari terjatuh ke dalam perbuatan keji dan maksiat. Sehingga seorang hamba menjadi setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi di dalam tubuh manusia. Kita memohon keselamatan kepada Allah Azza wa Jalla.[Lihat Qawa’id wa Fawa-id (hal. 181)]

Dahulu, orang-orang Jahiliyyah –yang berada di atas kebodohannya- sangat merasa berat untuk melakukan hal-hal yang buruk karena dicegah oleh rasa malunya. Diantara contohnya ialah apa yang dialami oleh Abu Sufyan ketika bersama Heraklius ketika ia ditanya tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Sufyan berkata,

فَوَاللهِ ،لَوْلاَالْـحَيَاءُمِنْأَنْيَأْثِرُوْاعَلَيَّكَذِبًالَكَذَبْتُعَلَيْهِ

Artinya :“Demi Allah Azza wa Jalla, kalau bukan karena rasa malu yang menjadikan aku khawatir dituduh oleh mereka sebagai pendusta, niscaya aku akan berbohong kepadanya (tentang Allah Azza wa Jalla).”[ HR. Bukhari (no. 7).]

Rasa malu telah menghalanginya untuk membuat kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ia malu jika dituduh sebagai pendusta.

Orang yang memiliki rasa malu dengan sesama tentu akan menjauhi segala sifat yang tercela dan berbagai tindak tanduk yang buruk. Karenanya orang tersebut tidak akan suka mencela, mengadu domba, menggunjing, berkata-kata jorok dan tidak akan terang-terangan melakukan tindakan maksiat dan keburukan.

Rasa takut kepada Allah mencegah kerusakan sisi batin seseorang. Sedangkan rasa malu dengan sesama berfungsi menjaga sisi lahiriah agar tidak melakukan tindakan buruk dan akhlak yang tercela. Karena itu orang yang tidak punya rasa malu itu seakan tidak memiliki iman.

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari al-Badri radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.”(HR. Al-Bukhari)

Ada beberapa pendapat ulama mengenai penafsiran perintah ”berbuatlah sesukamu” dalam hadits ini, diantaranya:

1. Perintah tersebut mengandung arti peringatan dan ancaman

Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah apa saja sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di akhirat atau kedua-duanya. Seperti firman Allah Azza wa Jalla :

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

”Berbuatlah apa yang kamu kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (Qs. Fushilat: 40)

2. Perintah tersebut mengandung arti penjelasan.

Maksudnya, barangsiapa tidak memiliki rasa malu, maka ia berbuat apa saja yang ia inginkan, karena sesuatu yang menghalangi seseorang untuk berbuat buruk adalah rasa malu. Jadi, orang yang tidak malu akan larut dalam perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan-perbuatan yang dijauhi orang-orang yang mempunyai rasa malu. Ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di Neraka.” [HR. Bukhari (no. 110), Muslim (no. 30)]

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas bentuknya berupa perintah, namun maknanya adalah penjelasan bahwa barangsiapa berdusta terhadapku, ia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka.[Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (I/498) dan Qawa’id wa Faawaid (hal. 180)]

3. Perintah tersebut mengandung arti pembolehan.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Perintah tersebut mengandung arti pembolehan. Maksudnya, jika engkau akan mengerjakan sesuatu, maka lihatlah, jika perbuatan itu merupakan sesuatu yang menjadikan engkau tidak merasa malu kepada Allah Azza wa Jalla dan manusia, maka lakukanlah, jika tidak, maka tinggalkanlah.” [Fathul Bari (X/523).]

Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang pertama, yang merupakan pendapat jumhur ulama.[Lihat Madarijus Salikin (II/270).]

Berbahagialah bagi yang memiliki rasa malu. Betapa bahanya jika malu telah pergi darimu.sebaik-baiknya malu adalah malu kepada Allah Ta’ala.

***

Artikel Muslimah.or.id
Penulis: Ummu ‘Abdillah Dewi Gimarjanti
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Maraji’:
  • Al Quranul Karim
  • Kitab Al-Jawabul Kahfi karya Ibnul Qayyim
  • Kitab Fathul Bari’ karya Ibnu Hajar al asqolani jilid X
  • Kitab Madarijus Salikin karya Muhammad bin Abi Bakrin
  • Terjemah Minhajus Salikin karya Syaikh Abu Bakar al Jazain
  • Kitab Riyadush Shalihin jilid 2
  • Kitab Qawa’id wa Fawa-id