Melepas Suami Dengan Amarah

0
31

“Aku tidak seburuk itu! Jangan kamu memandangku seakan-akan aku ini lelaki terburuk di muka bumi yang pernah kau lihat! Kalau suami-suami kawanmu atau orang yang kau kenal memang berselingkuh dan bersikap tidak baik pada istrinya, janganlah apa yang mereka alami, kau samaratakan dengan diriku!” Demikian sembur Rizal panas pada istrinya yang balas menatapnya dengan wajah merah.

“Tapi Mas Rizal itu sering banget loh, walau di depan aku melirik-lirik gadis manis atau perempuan lain yang bertubuh langsing. Mas tuh sama sekali tidak mengerti perasaan istri, dan tidak bisa menghargai istri. Kamu lakukan seakan-akan itu hal yang biasa saja. Mas lupa ya ayat Allah Qs. An-Nuur : 30.”

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ﴿٣٠﴾

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur [24] : 30)

“Dulu waktu masih kuliah, Mas selalu saya perhatikan menunduk dalam bila melihat wanita lewat, kenapa sekarang ketika sudah menikah malah seperti mengumbar pandangan dan mudah saja melihat dan meneliti wajah wanita lain yang bukan muhrim,” isak Tia tertahan.

Mas Rizal tentu saja tidak mau mengaku bahkan egonya bangkit ketika istrinya membeberkan semua perbuatannya yang masih suka ‘melihat’ wanita lain dengan alasan utama dalam hati dan benaknya, “Fitrah lelaki suka melihat wanita cantik seperti kalianlah para wanita yang melihat barang-barang bagus dan belanja sana sini.” Demikian hati kecil Rizal membela dirinya.

Malam itu berlalu dengan sepi dan dingin. Masing-masing membalikkan punggungnya walau mereka terbaring dalam ranjang yang sama, namun ego masing-masing membuat mereka menjadi bertambah kesepian sebetulnya.

Ketika pagi menyingsing, Tia yang kala itu sedang tidak sholat subuh, melakukan rutinitas paginya dengan menjerang air, menyiapkan air panas untuk mandi dan minum teh suaminya, dengan rasa hampa dan rasanya seperti suatu rutinitas saja.

Dalam wajah masih tertekuk, Rizal menyendok nasi goreng yang dibuat Tia, dan menghirup teh panasnya cepat-cepat. Rizal sejenak lupa bahwa teh itu sangat panas dan sungguh telah membuat ujung lidahnya kelu terbakar.

“Hari ini apa rencanamu?” Rizal memecah kesunyian diantara mereka. Maklum sudah 3 tahun menikah belum juga memiliki anak, dan wajar saja bila mereka selalu tertawa berdua serta makan berdua. Bila ada konflik dalam rumah tangga mereka, maka kesunyian akan menjadi makhluk ketiga diantara mereka yang sebetulnya sangat tidak disukai baik oleh Rizal maupun Tia istrinya yang dinikahi karena referensi Murobbinya. Tia dinikahi karena ingin mendapatkan setengah diennya dan berharap akan tercipta keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, bersama Tia istrinya yang semakin lama semakin dicintainya.

Kembali Rizal mengulangi pertanyaannya, “Apa yang akan kamu lakukan hari ini, Tia?” Sudahlah jangan engkau terus berprasangka buruk padaku, sungguh tak enak hatiku, semalaman aku tak bisa tidur memikirkan hubungan kita yang semakin rutin saja, jauh dari mesra,” Rizal mencoba membujuk Tia dan mengungkapkan isi hatinya.

“Ya sudahlah, aku minta maaf bila tindakanku membuat hatimu tidak enak, aku pergi dulu, hati-hati dirumah, jangan buka pintu pada orang yang tidak kau kenal dan bacalah Al Qur’an sabanyak yang kamu mampu! Pukul 5 sore kita pergi belanja ya, kamu kan sudah lama pingin makan durian montong, nanti kita cari di Giant. Aku lihat ada sale,” sembari mengelap mulutnya, Rizal beranjak dan mencium kening istrinya.

“Kok tahu ada sale? Kapan memangnya ke Giant? Dengan siapa? Rasanya aku sudah lama tidak kamu bawa ke mana-mana? Pergi dengan siapa kamu ke Giant?” Demikian serang Tia sambil wajahnya tetap menahan marah dan air mata merebak dalam matanya.

“Akh..sudahlah, aku pergi dulu, bosan aku dengan tuduhan-tuduhan yang tidak karuan, pikirkanlah yang positif-positif saja, aku ini suamimu, mengapa selalu berprasangka buruk padaku?” Dengan pikiran berkecamuk Rizal segera berangkat. Naas menimpa Rizal ketika dia sedang membawa mobil, ia tidak melihat sebuah truk bermuatan pasir meluncur dari belakang pasar.

Rizal tidak akan melihat dan membawa istrinya lagi ke Giant, dan tidak ada lagi durian montong yang dijanjikan untuk istrinya. Malaikat maut telah menyambut ruh Rizal. Entah nanti disurga. Dapatkah Tia menikmati durian montong di surga? Karena sudah tega menuduh suaminya yang bukan-bukan dan melepas suaminya pergi dengan amarah. Hanya mereka berdua yang akan tahu, dan saya yakin bidadari surga akan mendelik marah pada Tia yang menyebabkan suaminya pergi dengan perasaan galau. Mungkin bisik mereka; “Huuh…marah-marah melulu…! lihat nanti di surga akan kulayani suamimu dengan baik dan tidak pakai cemberut…(wallahu ‘alam).”

Kisah ini terinspirasi ketika aku melihat durian montong dengan harga sale 50 % di supermarket kecil seberang rumah kecilku. Bagi kita para istri dan suami, kisah ini tentunya dapat dijadikan pelajaran bahwa berpikir positif terhadap pasangan kita merupakan satu hal yang penting. Pikiran positif merupakan bagian dari kepercayaan yang telah dibangun diantara dua pasangan. Masing-masing pihak menanamkan kepercayaan dalam hati mereka dan menumbuhkannya dengan penuh kesabaran, sehingga pada akhirnya dapat merasakan buahnya yang manis. Kelak. Semoga.