Memahami Pembantu Rumah Tangga

0
73

“Mbak, ini siapa yang masak..?” Andi bertanya kepada mbak Ella yang menjawab dengan ragu-ragu.

“Sssayaa, den…” jawab mbak Ella, pembantu rumah yang baru berusia 17 tahun, dengan takut-takut.

“Enak mbak, besok bikin lagi kayak gini yaa..” Andi menjawab sambil meneruskan kunyahan kedua, ketiga dan tak terasa sudah dua piring habis, rawon daging yang lembut dengan telur asin yang sedap, cocok sekali untuk menu siang hari yang terik.

“Nyesss… Alhamdulillah,” bisik si mbak, pembantu baru rumah Andi yang baru 5 bulan kerja dirumah itu. Rumah bertingkat dua yang penuh perabot dan banyak ruangan yang tentu saja sebetulnya sangat melelahkan bagi siapapun yang bertugas membersihkannya,

Rumah yang sepi tanpa ibu, karena ibu pulang kerja sore hari dan kehadiran si mbak membuat rumah menjadi lebih teratur, rapih dan bersih. Semua barang tidak ada lagi yang berserakan. Koran-koran tertumpuk rapih, amplop-amplop permintaan sumbangan, kuitansi belanjaan, rekening listrik, undangan pak RT, sampai surat pemberitahuan dari RT/RW mengenai siapa-siapa saja yang bertugas membuatkan jatah makan malam buat satpam yang jaga malam di kompleks rumah itu, tersusun rapih. Hal ini tentunya sangat memudahkan bagi siapa saja penghuni rumah besar itu.

Di sore hari yang sepi, hanya tukang roti yang sesekali menawarkan dagangannya lalu nyanyian es krim walls dengan sepedanya mengelilingi kompleks rumah, mengiring teriakan yang mengagetkan Alia, anak bungsu dirumah itu. Bungsu gelarnya, namun tinggi badan sudah hampir 170 cm dan dari peringkat usia pun lebih tua sebetulnya dari mbak Ella. Kalau Ella berusia 17 tahun sementara Alia sudah 18 tahun. Alia sudah lulus SMU, dengan nilai UN tinggi sekali 54, 75, kira kira rata-ratanya 9 lebih. Hal ini menunjukkan bahwa Alia adalah anak yang pandai.

Amat disayangkan perlakuan Alia kepada mbak Ella yang membantu dirumahnya tidak menunjukkan kepandaiannya.

“Mbakkkkkkkkkk Ellllllaaaaaaa, siiiiinnnnniiii..!!!!!” jeritan Alia melengking dan membuat mbak Ella terlonjak, kecut hatinya dan kaki-kaki kecilnya naik ke lantai dua, kamar non Alia yang besar dan indah.

“Yaa non,” jawab mbak Ella penuh pengabdian.

“Mana baju saya yang pink, juga kaset CD yang saya taruh disini, dimana mbak,,? kenapa sih barang-barang di rumah ini selalu hilang, gak ada yang beres, semuanya berantakan, kayak ada siluman di rumah ini, cepat cariin mbak, saya mau pakai.!” Alia mencak-mencak dan membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur empuk sambil mendengarkan musik di iphone. Sungguh, mbak Ella jadi bingung, “Kaos pink yang mana..? begitu banyak kaos dirumah ini..? juga CD? CD yang mana..? setiap kamar ada kaset-kaset CD dan jumlahnya bukan satu atau dua, namun puluhan… akh…” sejenak mbak Ella bingung.

“Jangan diam saja dong mbakkk, cariiii. Cepetaaannn..” ajuk Alia lagi dengan wajah bersungut-sungut seakan-akan semua barang di rumah besar ini adalah tanggung jawab sang pembantu rumah. Belum selesai mencari CD dan kaos berwarna pink, terdengar teriakan dari bawah. Ternyata ayah minta dicarikan bola tenis dan sepatu tenisnya. Ayah minta dicarikan sekarang juga, karena jadwal tenis ayah sebentar lagi dan ayah mengatakan ”cepat cari La, saya harus pergi sekarang..”

“Ohhh.. pak dan non, tangan saya hanya dua..” Ella kecil pun berlari kesana-kemari, mencari semua barang yang diminta namun terlebih dahulu Ella masuk dapur untuk mematikan kompor yang berisi kuah sup, tanpa lupa pula menutup ayam yang baru dipotong-potong dimana si kucing melotot dengan penuh semangat dari balik pintu kaca pembatas taman belakang dengan dapur. Kasihan mbak Ella, tangannya hanya dua, namun pekerjaannya seratus dua. Dan semua menuntut harus cepat, segera, seketika, saat ini juga.!

“Mi,” suamiku berucap lirih, “kasihan sekali ni, ada seorang TKW kita di Arab Saudi terkena hukum pancung karena membunuh anggota keluarga sang majikan, dan keluarga majikan menolak memberi maaf sehingga sang pembantu akhirnya dihukum pancung oleh pemerintah Saudi.” Koran yang ku raih dari tangan suamiku, membuat hatiku gemetar dan ingin berteriak sekuatnya, “Yaa Allah, mengapa harus dipancung..? mengapa dia membunuh majikannya, kasihan dia.” Aku pernah merasakan berkali-kali rumah tanpa pembantu, betapa beratnya, kerjaan menumpuk, cucian begitu banyak, baru dibersihkan satu ruangan sudah menunggu ruangan berikut, belum lagi, selera makan anak yang berubah-ubah, lalu garasi yang kotor, kamar mandi yang sudah mulai lengket dan sedikit lumutan, lalu beras habis dikala tubuh sangat lelah untuk membeli beras ke warung, sementara suami dan anak-anak mau pulang namun lauk belum siap, ketika lauk-pauk siap pun, piring kotor menanti untuk segera dibersihkan, berebut gula dengan semut karena toples gula lupa ditutup.

Ohh, betapa kehadiran pembantu rumah, asisten rumah, kawan yang sangat menolong dan begitu diperlukan. Sampai hati para majikan membuat prahara bagi pembantu rumah tangga yang mereka juga adalah manusia, wanita, dengan gaji kecil bahkan lebih rendah dari supir yang kerjanya terlihat lebih enak , duduk-duduk saja, jalan-jalan naik mobil mewah. Pembantu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling berat namun dengan gaji yang paling kecil. Kalau perlu, coba dihitung lagi oleh menteri tenaga kerja, berapa gaji yang harus diterima seorang pembantu rumah tangga dengan melihat perasaannya, anak-anak yang ditinggalkannya, rasa bosannya, juga lelahnya serta hitunglah perkamar, maka sebetulnya pekerjaan pembantu rumah tangga adalah perkerjaan yang berat di dunia ini karena tidak ada waktu libur, tidak ada waktu santai, bahkan sekedar ber-sms pun seringkali dilirik oleh majikan dengan ungkapan sinis ”pacaran melulu..”

Belum lagi bila harus dikirim ke luar negeri, aku paham perasaan TKW yang dipancung, mungkin dia sudah gak tahan lagi diperlakukan dengan kejam oleh majikan dan anggota keluarga lain, diperlakukan seperti budak, dimana jaman perbudakan sudah tidak ada lagi, tanpa ada yang mampu menolong…

Bila ada hari, maka buatlah hari pembantu, hari khadimah, hari asisten rumah tangga dengan sejuta award, dari perusahaan tukang sapu, dari perusahaan sabun cuci, dari perusahaan buah-buahan, garam dan gula, yang mana benda-benda inilah yang paling sering dipakai oleh para pembantu. Senangkanlah mereka, berilah libur barang sehari dalam seminggu, perlakukan mereka sebagaimana diri kita diberikan waktu istrahat yang cukup. Biarkan mereka menunggu hari yang menyenangkan sehingga jasa mereka begitu dihargai.

Aku pernah ungkapkan pada sahabatku, betapa tanpa mereka, dakwah ini tidak berjalan. Tanpa mereka, bajuku lecek tak keruan, tanpa mereka aku gak bisa seperti ini dan mereka menduduki tempat teratas ketika pembagian THR tiba. Dengan jumlah yang sangat spadan, tak ada lungsuran tas, tak ada tas bekas untuk mereka, sebagaimana mereka berikan tenaga baru untuk kami, maka kami berikan tas baru untuk mereka, tidak ada tas bekas untuk mereka, karena merekapun tak pernah memberikan bekas tenaga, selalu tenaga baru di pagi hari.

Beri mereka hari yang selalu ditunggu kalau perlu setiap minggu.

“Happy mbak Ella’s day, happy mbok Inem’s day… happy thank you’s day..”

(Aku persembahkan tulisan ini dengan cinta dan terima kasih yang dalam kepada berjuta-juta mbok Inem, mbak Nah, mbak Tuti dan lain lain, yang telah menjaga anak-anak kita dan membantu pekerjaan rumah tangga kita, sehingga kita bisa menjadi seperti ini..)